Sumber : Republika
Jumat, 27 Februari 2009 pukul 08:43:00
Republik Ponari
Oleh Zaim Uchrowi
Tahun-tahun awal Masehi. Masyarakat Galilea-Palestina merasa menemukan harapan untuk keluar dari penderitaan. Sekitar 800 tahun sebelumnya, mereka masyarakat berjaya. Daud maupun Sulaiman adalah raja sekaligus Rasul Allah yang membangun kehidupan adil dan makmur. Tapi, di masa itu, keadilan dan kemakmuran tinggal menjadi kenangan. Yerusalem telah terjajah Romawi. Hasilnya, penderitaan mendalam bagi rakyat.
Penderitaan yang seperti tanpa jalan keluar sampai hadir Isa putra Maryam. Kematangan dan kesempurnaan pribadi Isa --kedamaian diturunkan baginya-- semestinya cukup menjadi jaminan bagi bangkitnya harapan. Beliau manusia sempurna utusan Tuhan. Tapi, di masa itu, kesempurnaan pribadi dianggap belum cukup meyakinkan. Rakyat perlu bukti.
Rakyat perlu mukjizat: Sesuatu di luar logika normal. Maka, hadirlah mukjizat. Berbicara saat bayi; menyembuhkan orang lepra; juga menghidupkan orang mati. Seolah mukjizat itu akan langsung mengatasi penderitaan umat manusia. Padahal, seperti diajarkan Isa, penderitaan akan teratasi bila manusia bersandar hanya pada Ilahi.
Dua ribu tahun setelah masa itu sudah berlalu. Ternyata, masyarakat tetap mengharap ada mukjizat. Termasuk masyarakat kita di tanah yang jauh dari Palestina ini. Mungkin cerita-cerita tentang 'mukjizat' Nabi dan 'karomah' Wali memang tertanam kuat di sini. Tapi, mungkin manusia memang tak berubah. Selalu perlu keajabiban.
Perlu yang instan. Perlu mukjizat. Hari-hari ini, di negeri yang subur makmur ini, masyarakat merasa menemukan mukjizat itu pada Ponari. Apa yang dapat dilakukan bocah sembilan tahun kelas 3 SD itu? Apakah Jombang, daerah penghasil tokoh-tokoh unik, seperti almarhum Asmuni, Gus Dur, hingga Ryan, menjadi faktor kelahiran fenomena Ponari? Kemungkinan besar tidak. Yang menjadi faktor kunci adalah batu asing yang bolak-balik 'mendatangi' Ponari.
Itu dianggap semacam mukjizat. Lalu, batu itu dipandang mempunyai kekuatan menyembuhkan. Maka berduyunlah orang ke tempat Ponari, mengharap air celupan batu itu buat berobat.
Sebagai pertunjukan, ini fenomena mengasyikkan. Juga, mengasyikkan buat melahirkan ide-ide liar. Seorang pemerhati pariwisata, misalnya, menyebut batu Ponari perlu dibeli buat dicelupkan ke berbagai danau di Indonesia. ''Biar orang-orang di seluruh dunia berbondong-bondong ke danau-danau di Indonesia,'' katanya.
Dengan mengumbar senyum tentu. Namun, selain menghasilkan seloroh yang menyenyumkan, fenomena Ponari juga menyodok-nyodok rasa keprihatinan. Fenomena Ponari menjadi tamparan pada seluruh sisi bangsa ini. Pada dunia pendidikan, kesehatan, hingga agama.
Pendidikan macam apakah yang terselenggara selama ini hingga masyarakat kita tak mampu mengelola kesehatan sendiri? Bahkan, menjadi masyarakat yang tidak berakal sehat. Layanan kesehatan macam apakah yang ada selama ini hingga masyarakat kita tidak percaya atau tak mampu menjangkaunya, lalu memilih lari ke batu Ponari? Pengajaran agama macam apakah yang berkembang selama ini hingga prinsip 'sunatullah' sederhana pun tak kita pahami? Dengan kualitas masyarakat setingkat ini, politik serta kepemimpinan publik macam apa yang terbangun di negeri ini? Tanpa transformasi mendasar di seluruh sisi, apakah Republik Ponari dengan kualitas begini dapat menjadi bangsa yang sejahtera bagi seluruh rakyatnya?
Fenomena Ponari semestinya membuka kesadaran bersama kita untuk berubah secara mendasar. Biarkan memang Republik ini tetap menjadi Republik Ponari. Tentu, bukan Ponari yang mengandalkan 'batu ajaib', tapi Ponari dengan moralitas kuat, cerdas, dan pekerja keras yang siap bersaing di era global.
Sunday, March 1, 2009
Republik Ponari
Posted by Jafek-online at 4:26 PM 1 comments
Wednesday, February 25, 2009
Resonansi Republika
Sumber Republika
Remaja itu Bernama Alanda Karizi
Oleh Asro Kamal Rokan
Ketika pemimpin partai lebih suka mencela lawan politik daripada bersama membangun bangsa, maka lihatlah apa yang dilakukan Alanda Kariza. Remaja berusia 17 tahun ini menjadi wakil Indonesia di Guildford Forum Global Changemakers di Inggris. Di dusun Horsley, Surrey, Inggris, Alanda yang diundang British Council --bersama 58 rekannya dari seluruh dunia, membahas berbagai topik dan membangun jejaring global. Dari sini, suara para remaja yang tergabung dalam forum pembuat perubahan itu dibawa ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swis, ketika para pemimpin dunia membahas krisis global.
Nama Alanda Kariza tidak sepopuler artis-artis sinetron apalagi dibanding nama-nama politisi. Namanya tidak ditulis di halaman depan media cetak dan tidak juga jadi berita penting televisi. Tapi di komunitasnya, di jaringan dunia maya, puluhan ribu orang mengagumi putri pasangan Firman Maulana dan Arga Tirta Kirana ini. Alanda menjadi inspirasi segenerasinya generasi yang mungkin tidak terpikir oleh orang-orang dewasa. Generasi dengan ide-ide hebat dan penuh semangat. Pelajar SMA 82 Jakarta ini menulis cerita bersambung dan mempublikasikannya melalui media internet, bukan melalui media cetak seperti umumnya. Ia berinteraksi dengan pembacanya, yang terkadang marah dan menangis.
Sebuah cerita bersambung yang ditulisnya di blog bersama Fajar Nugros, berjudul Bunuh Diri Massal 2008, cukup menghebohkan. Pikirannya melompat dari usia dan pengalamannya. Namun Alanda sesungguhnya adalah pemberi semangat yang kuat. Ia memiliki tenaga yang mendorong pembaca untuk optimis dan iklhas. Demi hidup, nggak perlu harus mati. If you can't be the best, be the first! tulis Alanda di blog-nya.
Alanda menulis, bahwa mati bukanlah penyelesaian. Bahwa menjadi kuat adalah sesuatu yang harus kita lakukan apabila orang lain lemah. Bahwa memberi semangat adalah sesuatu yang harus kita lakukan apabila orang lain tidak mampu menyemangati kita. Bahwa semua harus dihadapi dengan tabah, dengan senyum, dengan ikhlas. Bukan dengan rasa ingin cepat-cepat mati, bukan dengan rasa ingin bunuh diri ... Bahwa sesulit apapun hidup kita, masih ada orang-orang yang menjalani hidup yang jauh lebih sulit lagi.
Pada usia 14 tahun, Alanda menerbitkan novel pertamanya berjuduk Mint Chocolate Chips. Selain menulis, remaja kreatif ini juga ikut mendirikan komunitas sosial The Cure For Tomorrow, wadah untuk menggalang kepedulian remaja Indonesia tentang lingkungan hidup. Wadah ini ia bentuk karena kecewa atas sebuah LSM yang menolaknya bergabung karena usianya masih belia.
Alanda juga aktif menulis di berbagai majalah remaja, termasuk Warta Al-Azhar, dan mengisi waktu luangnya dengan mengajar les adik-adik di SD, serta mengkampanyekan gerakan anti-rokok. Ia berencana mendirikan Youth Parliament agar suara remaja juga bisa terdengar di parlemen. ''Aku selalu berpikir bahwa sekecil apapun usaha atau semangat atau bahkan hanya niat, pasti membuahkan hasil,'' ujarnya kepada Zeynita Gibbons, wartawan Antara di London.
Alanda baru 17 tahun. Ia generasi yang bergerak dinamis di tengah kekhawatiran banyak orangtua tentang perilaku permisif remaja kota. Pesannya tentang kehidupan, ketabahan, senyum, dan keikhlasan, jauh lebih bermakna dari pidato pemimpin partai yang lebih pandai mencela. Alanda memompakan harapan, optimisme, dan semangat --- tidak saja kepada remaja seusianya -- tapi juga kepada orang-orang tua yang merasa tahu segalanya. Dan, kita telah berbuat apa?
Posted by Jafek-online at 3:43 PM 0 comments
Sunday, February 8, 2009
Thursday, November 27, 2008
JBDK, Mbah Darmo dan OBama

JBDK, Mbah Darmo dan OBama
Kayak judul film saja waktu saya mencoba menuliskan posting ini. Tanggal 25 November 2008, saya dan teman-teman Srimulat bersiap melakukan latihan sebelum acara pementasan besok. Kebetulan kita diundang oleh XL Corporate untuk mengisi program nasional mereka yang bertajuk "XL Indonesia Berprestasi, Komputer untuk sekolah!". Sebelumnya, program ini diberi nama "OCOS : One Computer, One School - XL Berprestasi", tetapi, biar tetap melanjutkan semangat Sumpah Pemuda, akhirnya program tersebut dirubah menjadi lebih indonesiawi :).
Jam 4 Sore, saya dan teman-teman, meeting di rumah Pak Tarzan Srimulat. Tentu saja sebagai senior Srimulat, beliau meminta kita untuk tetap menjunjung nama Srimulat dan bersiap diri dalam berbagai pementasan. Kita melakukan "script reading" dan beberapa improvisasi sebelum pentas, sesekali diselingi obrolan dagelan ala Srimulat, warisan adiluhung bertahun-tahun....
Jam 7 malam, kami diundang untuk datang di acara perayaan ulang tahun Metro TV. Met ulang tahun ya rekan-rekan Metro TV, sayangnya kita nggak bisa lama-lama, karena kebetulan kita janjian dengan Barrack Obama.
Barrack Obama? Presiden Ngamerika?
Iya...kita sempat foto-fotoan bareng. Kebetulan Barrack Obama orangnya ramah banget. Kita datang menemuinya disebuah tempat yang dirahasiakan. Kami malah dipinjami Kamera untuk motret, karena nggak ada satupun dari kami yang bawa ...hahahah...baik banget tuh presiden. Akhirnya, kita bisa bikin foto-foto kenangan yang nggak bakal terlupakan. Terimakasih Pak Barrack Obama.Yang lebih asik lagi, Pak Obama mau mengenakan seragam batik "khas restoran padang" yang kami bawa malam itu. Sekedar mengenalkan kepada beliau tentang budaya dan khazanah kebudayaan Indonesia ...halah...
Dan uniknya, batik tersebut klop dibadannya. Mungkin udah takdir ya...hehehehe...tapi kita senang banget bertemu dengan dia. Coba lihat gaya Mbah Darmo yang serius banget berfoto ria dengan sang presiden Ngamerika. Nikmati aja...
Sony Set
http://tvlab.blogspot.com
Posted by Bicaralah ! at 2:41 PM 1 comments
Labels: JBDK PROJECT
Thursday, November 13, 2008
Obama Saja Bisa

Jumat, 14 November 2008 pukul 07:20:00
Oleh Zaim Uchrowi
Setelah sepekan membuat tercengang dunia, apalagi yang dapat dipercakapkan soal Obama? Pelajaran apa yang dapat ditarik dari sosok Amerika yang berdarah setengah Afrika ini? "Ada," kata seorang rekan. "Obama baca buku Balai Pustaka. Balai Pustaka ikut berperan untuk menjadikan Obama seperti sekarang." Apa maksudnya? Belum selesai saya mengunyah pernyataan itu, ia berkata lagi. "Kan Obama sekolah di SD Negeri di Menteng, Jakarta. Buku pelajaran di SD itu dulu terbitan Balai Pustaka semua. Jadi, dia pasti baca buku Balai Pustaka."
Sebuah ucapan buat menghibur saya yang kini menakhodai perusahaan penerbitan bersejarah milik negara ini. Seorang lain berkomentar. "Kalau Obama bisa, kita semua pasti bisa." Apakah ini menyangkut mengejar harapan yang seolah tak mungkin? Atau soal lainnya? "Obama yang cuma empat tahun di Indonesia saja bisa mengubah dunia. Kita yang seumur-umur tinggal di Indonesia semestinya bisa melakukan hal yang lebih hebat lagi," ucapnya sambil melempar senyum, yang mudah-mudahan bukan isyarat tak percaya diri, melainkan ekspresi dari sikap percaya diri.
Banyak yang dapat dipercakapkan tentang Obama. Banyak pula pelajaran darinya yang telah dibahas. Tapi, tak sedikit dari pelajaran itu yang baik untuk diulang-ulang dan digarisbawahi bagi bangsa ini. Di antara sekian banyak pelajaran yang dapat diambil, setidaknya terdapat tiga nilai yang sebaiknya diadopsi bangsa ini. Pertama, kesadaran tentang perlunya perubahan. Secara umum, kesadaran ini masih sangat rendah pada bangsa ini. Taraf perekonomian masyarakat yang relatif masih rendah, tata lingkungan yang cenderung makin rusak, layanan publik yang jauh dari memadai, penegakan hukum yang dipandang masih belum tegak, banyaknya penyakit sosial yang belum teratasi, dan banyak realita lain semestinya telah cukup untuk membuka mata kesadaran bahwa bangsa ini harus segera berubah bila ingin menjadi bangsa yang adil makmur seperti yang dicita-citakan. Tapi, yang terjadi, kita cenderung takut pada perubahan.
Adanya yang baru yang dikejar melalui perubahan dipandang mengandung ketidakpastian. Sedangkan ketidakpastian selalu mencemaskan. Itu yang acap kita hindari. Kita cenderung memilih sikap 'mapan', meskipun mapan dalam ketidaknyamanan. Kita biasa menyaman-nyamankan diri dalam ketidaknyamanan apa pun. Kita biasa menerima setiap keadaan sebagai 'takdir yang harus disyukuri'. Meskipun keadaan itu adalah ketidakberesan dan bahkan ketidakbenaran. Padahal, yang benar-benar meyakini takdir justru orang-orang yang paling siap menyongsong dan membuat perubahan. Orang yang paling bersyukur justru yang bekerja keras. Fenomena Obama mengingatkan: ayo berubah bila ingin benar-benar makmur.
Kedua, keberanian untuk bercita-cita. Seorang yang dianggap hitam dari kalangan biasa yang lahir dan besar di Hawaii di atas kertas mustahil menjadi elite kepemimpinan Amerika. Kepemimpinan yang selama ini dianggap jatah tokoh Putih-Anglo Saxon-Protestan (WASP). Obama menunjukkan tidak ada yang mustahil bagi seorang yang punya cita-cita dan harapan yang sangat kuat buat menggapai cita-cita dan harapannya. Sebagai bangsa yang lama terjajah, terkungkung budaya feodal, dan gampang melempar tanggung jawab pada takdir, kita sering tak berani bercita-cita. Padahal, bercita-cita itu gratis. Tanpa modal apa pun. Kalau membuat yang gratis saja tak mampu apakah layak bila berharap makmur?
Ketiga, senantiasa bersikap positif. Obama bukan seorang yang suka berkeluh kesah, dan mengkritik kiri-kanan. Sebaliknya ia selalu bersikap positif, dan mengajak secara positif bangsanya buat melangkah ke depan secara lebih baik. Energi positif Obama yang membuat dunia kini menatap Amerika. Energi positif seperti itulah yang perlu terus kita kembangbiakkan di dalam setiap diri kita masing-masing hingga bangsa ini menjadi bangsa yang berjaya dan bermartabat. Obama saja bisa. Mengapa kita tidak? (*)
Posted by Nain at 5:42 PM 0 comments
Thursday, October 23, 2008
Wimboh Santoso
PELAJARAN KASUS NOTRHTERN ROCK
Oleh
Wimboh Santoso
Northern Rock Bank (NRB) adalah merupakan hasil merger antara Northern Counties Permanent Building Society dan Rock Building Society (1965). Bank mencatatkan saham pada London Stock Exchange (1997) dan menjadi bank terbesar north-east England dan tercatat sebagai 5 terbesar lembaga penyalur kredit property di UK.
Fokus bank adalah kredit perumahan (hunian) yang mencapai 90% dari portfolio kreditnya. Sumber NRB umumnya bukan dari deposito dan tabungan tetapi dari wholesale credit market (pinjaman pasar uang) yang mencapai 75% funding bank. Dengan struktur dana tersebut, sehingga Northern Rock memang memiliki kerentanan terhadap liquidity mismatch.
NERACA SINGKAT NORTHERN ROCK BANK
31 Desember 2006 (dlm Jutaan GBP)
Total Assets
101.010
Pinjaman kepada nasabah
86.361
Pinjaman antar bank
5.621
Assets lainnya
9.028
Liabilities
101.010
Simpanan nasabah
26.868
Kewajiban antar bank
2.136
Hutang surat berharga (didominasi jangka pendek)
64.294
Hutang lainnya
4.502
Equity
3.210
Dari berbagai sumber dapat diperoleh informasi bahwa pada posisi terakhir penjamannya kepada nasabah sudah mencapai GBP 113 milyar yang terdiri dari 800.000 debitur serta deposito sebesar GBP 24 milyar dari 1.5 juta deposan.
Permasalahan
Pertumbuhan NRB cukup aggresif yang ditunjukkan dengan pangsa kredit baru yang mencapai 18,9% dari total kredit baru di UK. Total gross lending mencapai £33,0 miliar atau meningkat 23% dari tahun sebelumnya dan 87,9% diantaranya adalah residential mortgage yang selama 2006 meningkat 23% dan pada tahun 2007 meningkat lebih tajam sebesar 43%.
Namun, kualitas kredit NRB dilaporkan cukup baik dimana NPL hanya sekitar 0,42%, atau kurang dari setengah rata-rata NPLs industri.
Sumber dana NRB meningkat £18,8 miliar, dimana pangsa terbesar (45%) berasal dari funding stock dan wholesale funding serta retail funding masing-masing 25% dan 24% dari total funding stock. Dengan struktur demikian, NRB terekspose pada risiko likuiditas yang cukup tinggi.
Dengan merebaknya krisis sub prime mortgage, beberapa building society dan bank di UK mengalami kesulitan likuiditas dan mendapatkan normal funding fasility dari BoE, mengingat telah terjadi kelangkaan pinjaman antar bank secara global, namun belum menimbulkan gejolak bank runs. Sementara NRB dilanda bank runs mengingat NRB sudah mengalami kesulitas untuk mencari sumber bana jangka pendek di pasar uang sebagai dampak adanya global credit crunch sejak merebaknya subprime mortgage di USA. NRB mengalami kesulitan likuiditas yang serius, sehingga pada tanggal 13 September NRB terpaksa mengajukan bantuan likuiditas darurat (dalam skeme di Indonesia disebut Fasilitas Pinjaman Darurat atau FPD) ke BoE. Bank runs tersebut dipicu oleh persepsi negatif dari investor bahwa NRB mengalami kerugian sebagai dampak kasus SPN di US yang pada kenyataannya tidak demikian sebab portolio utama NRB bukan pada secondary market mortgage securities.
Response Otoritas
Negosiasi dengan BoE telah dilakukan selama sepuluh hari sebelum pada akhirnya diputuskan untuk diberikan pinjaman likuiditas darurat yang menggunakan uang pembayar pajak. Pada awalnya, BoE tampaknya enggan memberikan fasilitas likuiditas darurat, tetapi hanya bersedia memberikan bantuan likuiditas dalam kondisi normal (dalam skeme di Indonesia disebut Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek atau FPJP) dengan jaminan bernilai tinggi dan dikenakan penalty rate. Hal tersebut tersirat dari surat Gubernur BoE (Marvyn King) kepada Treasury Committee mengenai kelemahan dan permasalahan injeksi dana terhadap perbankan. “Pemberian bantuan likuiditas darurat tersebut dapat mendorong bank kurang berhati-hati sehingga secara tidak langsung pinjaman darurat ini melindungi bank terhadap perilaku yang beresiko tinggi. Hal itu, mendorong excessive risk taking dan menebarkan bibit krisis keuangan dimasa yang akan datang” tulis King.
Namun permasalahan semakin memburuk, dimana sampai tanggal 15 September 2007, telah terjadi penarikan dana sekitar $2 miliar dan akhirnya BoE terpaksa memberikan fasilitas likuiditas darurat berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan Inggris dengan mendasarkan rekomendasi BoE dan FSA. Dari berbagai sumber diperkirakan NR telah meminjam sebesar GBP 3 milyar pada hari pertama kena rush.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan otoritas terkait menyetujui pemberian bantuan likuiditas kepada NRB sbb:
1.Permasalahan Northern Bank adalah kesulitan likuiditas dan bukan solvabilitas. Rasio permodalan bank tercatat sebesar 12,3% dengan tier 1 rasio sebesar 7,7% (2005).
2.Dengan total loan sebesar 86.361 GBP million (2006) dan 90% nya adalah mortgage loan, NRB menguasai 22%1 dari pangsa mortgage loan di UK yang mencapai 346.000 million GBP2. Oleh karena itu permasalahan likuiditas Northern Bank dapat memicu dampak contagion terhadap bank-bank yang memiliki kesamaan bisnis. Hal ini juga didukung fakta bahwa pinjaman antar bank dari NRB juga cukup besar. Dibandingkan dengan krisis Baring Bank (1995), yang tidak ditolong leh BoE karena dinilai tidak menimbulkan dampak sistemik. Disamping itu Barings Bank sudah dalam kondisi insolvent dan kegagalannya disebabkan oleh fraud.
Namun demikian, pengumuman Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa kondisi NRB solvent dan BoE akan menjamin seluruh simpanan nasabah tidak berhasil meredam bank run. Hal ini dikarenakan persepsi negatif yang berkembang karena masyarakat dan pasar belum dapat mengetahui seberapa luas permasalahan akibat krisis SPM terhadap sektor keuangan dan perbankan yang telah merebak secara global.
Dampak terhadap pasar
Permintaan bantuan likuiditas kepada BoE menyebabkan harga saham NRB jatuh 32%. Hal itu juga berimbas pada harga saham bank sejenis, seperti Paragon turun 17% dan Alliance & Leicester turun 7%. Disamping itu bank run berpotensi terjadi pada kedua bank dimaksud dan bank lain sejenis apabila masyarakat dan kreditur di pasar uang masih merasa belum yakin tentang keamanan simpnanan dan investasinya di perbankan dan pasar uang.
Mengingat dampak kerugian atas permasalahan sub-prime ini sulit diketahui secara pasti, maka akan dapat menimbulkan kekhawatiran para kreditur pada lembaga-lembaga keuangan internasional. Sehingga dapat menarik simpanannya terhadap lembaga-lembaga keuangan yang diperkirakan terkena imbas kasus subprime mortgage ini. Sampai berapa lama kekhawatiran ini mereda tergantung hasil laporan keuangan yang diaudit dan dipublikasikan akhir tahun ini. Berbagai sumber mengatakan bahwa dampak secara luas kasus subprime mortgage ini terhadap perekonomian akan cukup lama mengingat terdapat beberapa lembaga keuangan yang beroperasi secara global mengalami kerugian cukup besar dan besarnya kerugian akan masih belum jelas sampai dengan ditirbitkannya laporan keuangan yang di audit untuk posisi akhir tahun 2007.
Lesson Learnt
Dengan pengalaman kasus NRB di UK tersebut maka kita dapat mengambil hikmah dan sebagai pelajaran bagi kita di Indonesia. Jelaskan pelajaran apa yang kita peroleh dari kasus NRB tersebut yang berkaitan dengan penerapan risk managment.
Read More.. Read More..
Posted by Jafek-online at 5:20 PM 0 comments
Tokoh
Melalui koresponden Solo, Hardo Samudro yang dikawal Gunawan Sakti, Redaksi mendapatkan laporan hasil wawancara dengan Pak Tulus antara lain menuturkan bahwa kedua Orang tuanya rela mengorbankan harta benda yang dimiliki untuk biaya sekolah, karena petuah orang tuanya adalah membekali anak dengan kepandaian / ilmu tidak akan ada habisnya dan akan lebih menjamin masa depan dibandingkan dengan membekali harta benda, karena harta benda akan habis. Sewaktu mudanya Pak Tulus juga ikut membantu ayahnya sebagai petani dan mempunyai motto hidup yang sangat sederhana yaitu bagaikan air mengalir, tidak perlu ambisius, karena dengan ambisius apabila tidak tercapai akan bisa frustasi. Karena semua tergantung dengan yang menata kehidupan di atas. Setelah kita berusaha dengan semangat, ulet, nekat dan selanjutnya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Dana bukan satu-satunya untuk memperoleh kesuksesan, karena kalau tanpa ada semangat, keuletan dan kenekatan semua akan sia-sia.
Sebagai Dosen, Pak Tulus memiliki banyak karya dalam bidang Tri Dharma PT. Dalam Bidang Pendidikan sudah 15 buku yang ditulis utamanya Ekonomi Mikro dan belakangan buku pemasaran bahkan satu buku yang masih dalam proses penulisan adalah Manajemen Promosi. Dalam Bidang Penelitian sudah 30 judul yang dihasilkan baik sebagai ketua peneliti maupun sebagai anggota. Sedangkan dalam Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan yang merupakan kerja sama dengan institusi lain. Pria yang pernah mendapat penghargaan antara lain sebagai Man & Woman of Year 2000 dari Yayasan PWI Jateng, Top Executive Award tahun 2002 dari Anugerah Prestasi Indonesia Jakarta (sedikitnya telah menerima 15 jenis penghargaan baik dari Pemerintah maupun lembaga swasta) ini pernah menjabat Direktur Akademi Akuntansi dan Perpajakan Bentara Indonesia Surakarta juga produktif dalam publikasi karya ilmiah baik di majalah dan jurnal terakreditasi maupun koran. Pak Tulus juga menjadi Anggota Team Assesor BAN PT Pusat sejak tahun 2005 hingga sekarang.
Prof Tulus Haryono lahir di Boyolali, 1 Agustus 1955 dan menikah dengan Dra. Sabar Mariati, MSi dan telah dikaruniai 2 anak yaitu Bambang Setyo Haryono, ST yang sekarang menjadi karyawan Bank Niaga di Jakarta dan Novita Haryono sekarang masih kuliah semester 7 di FISIP Atmadjaya. Tinggal bersama keluarga di Jl. Kartika I/06 Perum Wahyu Utomo, Palur, Karanganyar Telp (0271)8253535 dan HP 08122983520 serta E-mail: tulusfeuns@yahoo.com.
Ketika diminta tanggapan terhadap keberadaan Buletin Jafek, masukannya antara lain perlu adanya optimalisasi dengan pengurus masing-masing wilayah serta kerjasama dengan Fakultas. Buletin ini sangat baik untuk ajang komunikasi antar alumni maupun untuk alumni dengan Fakultas. Dengan terciptanya komunikasi ini diharapkan kesinambungan yang baik antar keduanya dan mungkin lebih ditingkatkan lagi dengan adanya usaha-usaha untuk menjadikan kebanggaan bagi para alumni. Selamat berkarya Pak tulus dalam mengemban Jabatan baru sebagai Direktur Program S3 FE UNS, semoga Tuhan selalu memberikan petunjuk dan bimbingan agar para alumni tambah bangga atas prestasi yang akan diraih–amin.
Read More.. Read More..
Posted by Jafek-online at 5:12 PM 0 comments
Saturday, October 18, 2008
Iseng ke Puncak Lawu
Di Perjalanan, Aku membuat rencana mampir ke daerah bekonang..solo menemui teman-teman lama yang siapa tahu mereka aktif di PAN…untuk membantu Thoriq..teman SMP yang menjadi caleg DPR RI no 2 untuk wilayah Sukoharjo. Tetapi terbersit juga keinginan untuk mampir mendaki ke gunung lawu. Sampai mendekati pos pendakian, masih lebih besar keinginan untuk mampir di daerah bekonang, dengan pertimbangan akan Lebih produktif daripada sekedar iseng naik ke lawu,
Ketika akhirnya sampai di depan posko cemoro sewu..lagi-lagi insting yang bicara (bukan karena keinginan yang kuat). Kebetulan saat itu sepi ..tak ada motor atau mobil di tempat parkir, yang berarti tak ada yang mendaki, karena mungkin hari jum’at, tabu untuk bepergian.
Ditengah keraguan antara mendaki atau tidak, Mas penjaga posko yang kukenal hari sebelumya..teriak-teriak dari seberang jalan…mas masukkan saja motornya… Akhirnya motor ku masukkan..beli aqua ..di warung depan..(baru dibuka karena saat itu sekitar pukul 8.00). Hanya beli aqua saja..toh di atas ada yang jualan. Padahal pagi itu aku hanya makan sedikit saja untuk sekedar menghormati mertua yang sudah menyiapkan makanan (Aku tidak terbiasa makan pagi).
Dengan hanya berbekal sebotol aqua, jam 8.10 Aku mulai melakukan pendakian. Dari Posko sampai Pos 2, (sekitar 4 km), Aku berjalan cepat (karena ingin segera kembali turun). Karena berjalan cepat nafas sudah hampir habis. Aku mulai merasa ragu-ragu, karena hari itu hanya saya sendiri yang melakukan pendakian.
Dari posko awal sampai pos 2 kira-kira saya tempuh dalam waktu 1,45 menit. Di Pos 2, aku ketemu dengan 2 pendaki muda (yang nanti akhirnya menjadi teman perjalanan), dimana mereka telah berangkat mendakijam 3 pagi, tetapi karena hujan akhirnya menunda perjalanan dan menginap di Pos 1. Merasa masih punya tenaga dan karena saya harus turun hari itu juga, Aku mendahului perjalanan menuju pos selanjutnya yaitu Pos 3, yang jaraknya menurut peta kira-kira 800 meter.
Perjalanan mulai terasa berat..jarak 800 meter Aku tempuh hampir 1 jam…teman pendaki muda yang dibawah sudah melewatiku. Jam 10.12 ketemu pendaki yang turun, rombongan anak-anak STM dari bekasi Jakarta. Perjalanan mulai saat itu menjadi terasa berat sekali…haus tidak masalah karena bawa aqua..tetapi terasa sangaat lapar luar biasa (belum pernah aku selapar itu). Tidak ada orang yang lewat, satu-satunya yang terasa nikmat adalah merebahkan badan. Berbaring ditengah jalan bebatuan sambil menetap langit…yang biru bersih tak ada awan sedikitpun..terasa nyaman..dan rasa takut, jika nanti tiba-tiba kabut dan hujan. Akhirnya kupaksakan melanjutkan perjalanan, dengan terseok-seok naik keatas selangkah ..tergeletak lagi..selangkah tergeletak lagi…sambil membayangkan diatas nanti makan indomie panas..(alangkah nikmatnya). Sampai jam 10.53 saat itu aku benar-benar merasa sudah tidak kuat lagi…sehingga saya sempat tertidur kurang lebih 15 menit..betul-betul tidak kuat,..karena kebanyakan minum mulut sudah terasa kecut,,kepikiran.. saya tampaknya harus di evakuasi..sudah terbersit dalam hati..siapa yang harus saya hubungi…musyofi (Mantan MEPA UNS), Emon (bakorlak Solo). Sampai kemudian terdenganr suara sayup-sayup azan sholat jum’at ( Wah saya meninggalkan sholat jum’at, sehingga balasaannya seperti ini. Walaupun sudah saya niati karena saya nusyafir..maka sholatnya nanti bisa dijamak).
Pada kondisi kritis tersebut, saya sempat sms minta pulsa..dan memberitahu teman-teman yang kebetulan hari-hari itu sering kontak, (teman-teman tenis sabtu pagi.. bahwa saya mendaki lawu…biar mereka tidak bertanya-tanya kenapa saya tidak datang tenis besoknya). Kenapa saya mengirim sms, pada hal daerah cemoro sewu tidak ada sinyal..(karena saat itu ada sms masuk, bahkan sampai dua kali).
Lapar luar biasa…belum pernah saya merasakaan selapar itu…sehingga kalau saya tidak dapat makanan pada saat itu minimal saya pasti pingsan…ditemukan orang (kalau kebetulan ada) dan di gotong ke bawah. Alhamdulillah sekitar jam 12.40 sudah hampir 2 jam… ada rombongan pendaki turun dari puncak. Aku harus menjadi peminta-minta kalau mau selamat, sehingga kukatakan pada mereka (Dik..ada makanan tidak..saya ganti uang..saya belinya…saya sudah tidak kuat lagi). Mereka berkata, wah kami sudah turun..bekal kami sudah habis..tinggal sayur-sayuran,. Saya memaksa mereka…(sayurannya apa…mentimun..yaa sudah mentimun juga ndak masalah). Akhirnya saya dapatkan 2 buah mentimun dari pendaki asal Surabaya, Satu potong roti, dari pendaki asal UMS SOLO (psikologi), Sebuah madu rasa (pendaki dari Bekasi), Vitacimin (pendaki dari Bekasi) dan sebungkus roti kering dari pendaki lainnya, (Makanan-makan tersebut saya dokumnetasikan ketika sampai di rumah).
Makan mentimun, mengisap madu rasa…wah luar biasa nikmatnya dan langsung memberikan enegi baru .(Baru kali ini saya makan dan merasa langsung berenergi). Disini saya diberitahu mereka, nanti lurus saja ke argo dalem, disana ada penjual makanan dan tempat menginap. Saat itu baru aku menyadari kenapa anak-anak pecinta alam itu solidaritasnya luar biasa. Tidak ada cuek-cuekan sedikitpun ketika kita bertemu di jalan.
Perjalanan masih ½ pendakian lagi. Karena sudah kemasukan makanan, naik ke pos 4 yang sangat tajam..tidak masalah lagi. Di perjalana ke pos 4 ini, ketemu rombongan dari Ponorogo, ada putrinya..ada yang tua, ada yang muda campur. Melihat penampilan, mereka kelihatannya bukan pendaki (ketika sampai diatas ada cerita, mereka itu berangkat malam dari arah cemoro kandang, karena salah satu pingsan di jalan mereka nginap di POS IV, mungkin karena mereka belum pernah mendaki lawu sebelumnya..karena pos IV dengan hargo dalem sebenarnya sudah relatif dekat). Mereka nampaknya membawa misi dari partai..karena mereka memasang bendera PAN di salah satu jalur pendakian cemoro kandang, (kutemukan bendera tersebut keesokan harinya ketika turun). Mereka tampak sehat-sehat dan cepat (mungkin karena turun)…Kusapa dan kutanya mereka.. apakah masih jauh …ketemu pendaki yang diatas tidak…Mereka mengatakan, ketemu pendaki (yang mendahului saya di pos 3), sudah sampai di batu kapur (jarak relative sudah berdekatan dengan saya, karena batu kapur sudah kelihatan dan tidak jauh).
Aku naik lagi, ketika dari jauh kulihat nampak dua pendaki dari Surabaya, yang mendahului saya tadi , aku jadi tambah bersemangat .tenaga tidak masalah lagi…sesudah melewati sumur Jolotunda (sumur yang terletak didalam gua dengan kedalaman hampir 200 meter) jalan sudah mendatar berbatu dengan pandangan terbuka. Jalan itu menuju ke arah dibalik gunung. Disini saya sudah berhasil menyusul teman pendaki Surabaya. Ditempat ini pulsa permintaan saya masuk (berarti di tempat ini ada sinyal).
Kemudian dari jauh kulihat seorang ibu dengan mengenakan pakaian serba merah..kalau sendirian saya pasti takut. Ternyata ibu itu dikenal dengan nama mbok To…pemilik warung di sendang drajat..Pesan Indomi Rebus disitu..sekaligus menghangatkan badan di depan tungku..sholat lohor dan ashar di jamak di bebatuan didepan sendang..ambil air wudhu…airnya masuk sampai menusuk tulang jari tangan ,sehingga terasa menjadi kaku. Ketika mau melanjutkan perjalanan ke hargo dalem…bangkit dari perapian di depan tungku kaki saya kram dua-duanya. Sakitnya luar biasa. Kaki tidak bisa di tekuk..sehingga saya harus dibaringkan dengan disangga kedua teman pendaki. Untung kramnya tidak dijalan tadi ketika sendirian.
Perjalan dari posko awal jam 8.10 dan sampai di sendang drajat jam 2.10 menit, jadi perjalananku memerlukan waktu 6 jam.(ketika saya cerita di posko, katanya itu waktu tempuh normal). Disini saya ketemu teman-teman pendaki dari Jakarta, yang akan mendirikan camp di sekitar sendang derajat.(mereka yang cerita kondisi pendaki yang dari ponorogo, saya tidak bisa membayangkan kondisi mereka di pagi berikutnya, karena pagi berikutnya di puncak terjadi badai, dengan hembusan angin yang kuat).
Selanjutnya meneruskan perjalanan memutar kearah dibalik puncak gunung, menuju hargo dalem( disitu ada penghuninya, mbok Yem). Sampai di rumah mbok yem (Mbok yem sudah 20 tahun tinggal di puncak), langsung minta foto bersama (seperti foto dengan artis, karena mbok yem pernah masuk tv7 dalam program jelajah), terus masuk saja ke bedengya (kira-kira mampu memuat 100 pendaki. Bedeng ini punya fasilitas lengkap listrik dengan tenaga jenset, bisa untuk charge HP, WC, Kamar mandi dan yang pasti tungku). Rencananya menginap semalam dan besok paginya naik ke puncak sekitar jam 4 pagi dan terus pulang. Di situ saya ketemu mas Andi asal Mojokerto, tinggal di tangerang, sudah beberapa hari tinggal disitu (pendaki ritual), dan mas Mu’is asal Kediri yang sudah tinggal beberapa bulan.
Tipe-tipe pendaki lawu itu ada beberapa macam. Pertama, pendaki dari pecinta alam…biasanya persiapannya cukup lengkap…dengan tas punggung yang besar..siap membuka tenda dimana saja..., kedua, pendaki penduduk setempat, yang seperti mbok To, karena jualan…. Ketiga pendaki Ritual…yang ini biasanya agak ekstrim..bersandal jepit, bekal ala kadarnya,..dan jalan di malam hari…bisa dalam kondisi hujan..lewat cemoro kandang lagi (jalur ini menurut saya jalur ekstrim..terkesan angker, lha wong kita berjalan dijalan setapak yang licin dibibir jurang pangurip-urip yang kedalamannya seolaah tanpa batas. Mereka biasanya beberapa hari diatas dengan menjalani ritual tertentu di hargo dalem (konon tempat pertapaan Prabu Brawijaya (pantas universitas brawijaya sakti)., sambil puasa, atau minimal mutih. Mereke biasanya bersamadi dimalam hari. Kemudian tipe pendaki yang terkhir adalah tipe pendaki Iseng seperti saya, tanpa persiapan, tanpa bekal , hanya baju seragam ala naik motor..menganggaap enteng ,,,namanya juga iseng..syukur-syukur sampai..kalau tidak yang turun lagi. Ternyata- iseng-iseng itu sangat berisiko …kalau kita sudah sampai ditengah jalan…naik dan turun sama saja resikonya…tidak kuat..dan bisa mati di jalan. AKu ambil hikmah dari perjalanan itu, semakin tergesa-gesa jarak tempuh terasa semakin jauh, dan ketika berjalan santai sambil menunduk..langkah terasa ringan dan jarak terasa semakin dekat.
Alhamdulillah , minimal sudah sampai pos aman, sholat maghrib dan isya di jamak, tayammum. Dinginnya minta ampun…di warung mbok yem itu, pesan kopi susu..beli nasi pecel (nasinya dingin .. pedesnya pecel meyekak langit-langit mulut, sementara yang panas hanya telurnya) Beli penutup kepala, beli kaos tangan beli kaus kaki..dan tidak bisa tidur..karena otak terasa beku dingin sekali.
Jam 2 pagi aku sudah terbangun (karena memang tidak bisa tidur), duduk-duduk didepan sentir, biar agak hangat. Persis jam setengah empat pagi, ayam jago berkokok, ayam di gunung belum terkena polusi barangkali, sehingga bangunnya tepat waktu. Keluar walau agak berkabut..tetapi bintang-bintang masih nampak dilangit. Jam empat dan seterusnya hembusan angin semakin kuat..terasa hendak merobohkan bedeng kami..Sholat subuh..jamak lagi..dingin luar biasa. Kabut tebal dan angin semakin kencang..sehingga rencana naik puncakpun di tunda. Jam enam pagi lewat rombongan lain dari Surabaya yang mau turun,,,sebenarnya saya kepikiran mau ikut..tetapi tanggung belum naik ke puncak.
Menunggu-nunggu matahari muncul..malah suasana semakin gelap..(Kata mbok Yem, Alam tidak usah dirasani, nanti malah akan semakin menjadi, kalau sudah waktunya toh akan berhenti sendiri) ketika sudah mendekati jam 9, kuajak teman-teman naik ke puncak, ditengah terpaan angin yang luar biasa kami naik kepuncak, tidak jauh hanya butuh 30 menit. Tetapi terpaan angin terasa menyiksa, membuat telinga sakit, mulut kejang dan lidah menjadi kelu.
Sampai di puncak foto sebentar dan saya pamit turun duluan, karena teman-teman sedang merayakan keberhasilan menggapai puncak, sedang saya biasa saja(Ooo begini tho puncak gunung itu, hanya sebuah dataran kecil dengan sebuah tugu sederhana). Karena terpaan angin yang luar biasa saya putuskan turun duluan. Tetapi toh pada akhirnya aku tidak berani, (takut salah jalur dan kesasar). Aku menunggu mereka saja yang tengah berbahagia, merayakan sebuah pencapaian.
Kemudian setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya turun juga dari puncak, kami mempersiapkan diri untuk turun melalui jalur cemoro kandang. Sebenarnya ngeri juga,. Karena ditengah cuaca seperti itu lewat cemoro kandang berbahaya disamping jaraknya juga lebih jauh. Tetapi Karena teman-teman sudah berniat melalui jalur cemoro kandang sejak awal , akhirnya aku ikut saja. (Tadinya saya mau turun pagi-pagi sendirian lewat cemoro sewu, tetapi, ditimbang-timbang tidak berani).
Jam 10.45 akhirnya kami turun..diperjalannya ternyata anginnya tidak sekuat di puncak..sehingga perjalanan relative aman. Walaupun secara logika seharusnyya jalur itu langung diterpa angin, karena persis berjalan di bibir gunung berputar-putar. Menurut saya jalur cemoro kandang lebih cocok digunakan oleh para pendaki ritual..karena mereka sudah siap dengan resiko apa saja.termasuk tiba-tiba lenyap ke dalam jurang..atau bisa juga oleh pendaki pecinta alam dengan persiapaan matang..dan mereka memang mencari tantangan, sekaligus uji nyali. Tetapi jangan-sekali-kali digunakan oleh pendaki iseng semacam saya. Jalur ini jalur jalan setapak, dibibir jurang yang penuh dengan longsoran..dan menyeberangi dua bukit yang membelah jurang yang sangat dalam. Karena turun kami terus berjalan cepat tanpa berhenti..jalur cemoro kandang pemandangananya hanya jurang yang sangat dalam, beda dengan cemoro sewu yang pemandangannya telaga sarangan.
Kurang lebih setelah 3.5 Jam, kami sampai pos satu…karena saya sudah sangat rindu bertemu keluarga sehingga saya mendahului teman seperjalanan saya yang akhirnya kutahu bernama Ayub Mahasiswa UNESA Surabaya dan RERE yang masih SMA. Berjalan sendiirian ditengah hutang, didepan saya ada ibu-ibu yang mengggendong kayu dengan jalan yang sangat cepat..yang tiba-tiba menghilang..saya mulai takut…jangan-jangan..dia sejenis jin. Ternyata karena dia berjalan sangat cepatnya sehingga ketika di tikungan jadi tidak kelihatan. Akhirnya saya berjalan semi berlari di belakangnya..dan saya minta izin untuk mengambil fotonya.dia mau di foto. Melihat seorang Ibu menggendong kayu bakar dari atas gunung, pikiranku melayang ke hiruk-pikuk BEI, yang katanya menyebabkan banyak orang kekayaannya turun (Dari 10 M menjadi 6 M, he..he, dan menyikapi kondisi ini SBY bingung mengambil kangkah-langkah penyelamatan). Sementara Ibu itu hanya butuh uang barang Rp10.000 rupiah, hanya Rp10.000 rupiah, ini terbukti ketika saya kasih uang sepuluh ribu rupiah..Ibu itu sangat bergembira sekali.
Kemudian dia terus berjalan cepat, tetapi menggunakan jalur yang berbeda..saya menjadi bingung..lho medal pundi buk…ternyata dia lewat jalan terabasan, saya mau mengikuti tidak diperbolehkan, sehingga saya sendirian lagi..tetapi kemudian dibawah terdengar suara orang sehingga agak ayem..ternyata mereka rombongan yang mau mendaki..sekitar 6 – 7 orang dari Sukoharjo (wah teman sekampung), satu orang pusing sudah hampir tidak kuat…padahal naik keatas masih diperlukan waktu lagi minimal 5 jam, dengan cuaca buruk lagi. Turun lagi ketemu rombongan dari bandung, kuberitahu mereka kondisi jalur dan cuaca buruk, mereka katanya mau bikin base camp di Pos 2. Tak terbayangkan bikin base Camp di pinggir Jurang.
Aku terus berjalan turun, tanpa tahu berapa jauh lagi, sampai Akhirnya aku merasa plong, sangat lega ketika jalan raya- Cemoro sewo sudah kelihatan..dengan sebersit rasa bangga turun sendirian dari atas gunung lengkap dengan tongkat walau nampak loyo tetapi hati ini terasa gagah (he..he..). Di Pos persiapan pendakian bertemu dengan banyak anak-anak muda dengan persiapan dan perbekalan lengkap, bersiap-siap mau melakukan pendakian. Sementara saya naik gunung tanpa persiapan dan perbekalan dan hanya sekedar iseng..betul-betul hanya sekedar iseng, telah turun gunung…dengan tampilan lebih mirip tampilan pendaki ritual …atau penduduk desa yang sudah biasa naik-turun gunung.
Kemudian aku mampir di warung depan cemoro kandang yang hari sebelumnya kusinggahi,..ketika kuceritakan perjalanan saya..mereka agak kaget juga..kok nekat banget. Ketika jalan ke cemoro sewu untuk ngambil motor, salah seorang yang ada diposko yang kupamiti sehari sebelumnya, mengenali saya dan saya dibonceng sampai ke posko. Mereka ternyata juga menanti-nanti kedatangan saya. Pamitnya cuma jalan-jalan kok sampai ke puncak. Rupanya teman-teman yang turun menceritakan kondisi saya ke petugas posko. Termasuk teman-teman yang turun pagi itu…yang cerita saya juga sudah mau turun.
Perjalanan turun dari puncak jam 10.45, sampai di posko cemoro kandang jam 14.45, sehingga waktu yang diperlukan untuk turun gunung adalah 4 jam. Mampir di Masjid untuk sholat Lohor dan ashar(dijamak) yang lokasinya di perjalanan turun agak bawah kearah tawangmangu..ketika sedang baca tulisan “HP mohon dimatikan”, SMS secara berondongan masuk…ternyata banyak yang mencari saya..heboh..katanya saya hilang, Ternyata peralatan komunikasi di satu sisi sangat menyesatkan, ketika saya tidak berhasil dihubungi maka dianggap saya hilang,.. di cemoro sewu memang tidak ada sinyal (hallo para penyedia jasa telekomunikasi, cemoro sewu di pasang BTS dong ..! para pendaki sangat memerlukan).
Tips buat para pendaki Iseng :
Mendaki gunung bisa dilakukan tanpa persiapan yang berat . Cukup pakai baju hangat , sandal jepit ndak masalah, asal bawa banyak, soalnya putus dijalan. Minum..dan jangan lupa Makanan untuk pengganjal perut, ini sangat penting. Mendakilah pagi hari, lihat dulu cuacanya cerah apa tidak. Kalau sore pasti sampeyan ndak berani berjalan sendirian, apalagi kalau hujan. Kalau naiknya gunung lawu tidak usah bawa bekal banyak-banyak malah memberati punggung, karena diatas ada warung- dan penginapan gratis. Kalau turun sudah tidak perlu bekal lagi..tinggal lari saja.
Terima kasih, kepada Ayub, Rere, teman seperjalanan, teman-teman pendaki dari Surabaya, Bekasi, Solo yang telah rela memberikan bekal nya di saat-saat saya sedang kritis, Mbok To di Sendang Drajat, Mbok yem di Argo dalem , mas Andi Mas Moeis.
Dokumentasi pendakian Iseng saya uploade flickr,com disamping dan di you tube..lengkap dengan tanggal dan jam peristiwa bisa di save image oleh siapa saja kalau mau.
Read More.. Read More..
Posted by Jafek-online at 5:59 PM 1 comments





























