Segenap Redaksi Jafek Mengundang teman-teman alumi FE UNS untuk menjadi kontributor Jafek online, dengan cara mengirimkan alamat email ke jafekuns@gmail.com, atau mengisikannya ;ewat kolom comment di blog ini....Salam Sukses

Thursday, October 23, 2008

Wimboh Santoso

PELAJARAN KASUS NOTRHTERN ROCK
Oleh
Wimboh Santoso

Ketidak percayaan kreditur pemberi pinjaman jangka pendek pada bank yang mengalami liquidity mismatch serta lambatnya respon otoritas dalam mengambil keputusan dan kurang efektifnya koordinasi dapat memicu krisis likuiditas dan bank runs. Meskipun perbankan Indonesia tidak ada yang “bermain” housing mortgage, namun kasus Nothern Rock Bank menjadi pelajaran berharga bagi bank dan otoritas (Depkeu dan BI) di Indonesia.
Company Profile
Northern Rock Bank (NRB) adalah merupakan hasil merger antara Northern Counties Permanent Building Society dan Rock Building Society (1965). Bank mencatatkan saham pada London Stock Exchange (1997) dan menjadi bank terbesar north-east England dan tercatat sebagai 5 terbesar lembaga penyalur kredit property di UK.
Fokus bank adalah kredit perumahan (hunian) yang mencapai 90% dari portfolio kreditnya. Sumber NRB umumnya bukan dari deposito dan tabungan tetapi dari wholesale credit market (pinjaman pasar uang) yang mencapai 75% funding bank. Dengan struktur dana tersebut, sehingga Northern Rock memang memiliki kerentanan terhadap liquidity mismatch.
NERACA SINGKAT NORTHERN ROCK BANK
31 Desember 2006 (dlm Jutaan GBP)
Total Assets
101.010
Pinjaman kepada nasabah
86.361
Pinjaman antar bank
5.621
Assets lainnya
9.028
Liabilities
101.010
Simpanan nasabah
26.868
Kewajiban antar bank
2.136
Hutang surat berharga (didominasi jangka pendek)
64.294
Hutang lainnya
4.502
Equity
3.210

Dari berbagai sumber dapat diperoleh informasi bahwa pada posisi terakhir penjamannya kepada nasabah sudah mencapai GBP 113 milyar yang terdiri dari 800.000 debitur serta deposito sebesar GBP 24 milyar dari 1.5 juta deposan.

Permasalahan
Pertumbuhan NRB cukup aggresif yang ditunjukkan dengan pangsa kredit baru yang mencapai 18,9% dari total kredit baru di UK. Total gross lending mencapai £33,0 miliar atau meningkat 23% dari tahun sebelumnya dan 87,9% diantaranya adalah residential mortgage yang selama 2006 meningkat 23% dan pada tahun 2007 meningkat lebih tajam sebesar 43%.
Namun, kualitas kredit NRB dilaporkan cukup baik dimana NPL hanya sekitar 0,42%, atau kurang dari setengah rata-rata NPLs industri.
Sumber dana NRB meningkat £18,8 miliar, dimana pangsa terbesar (45%) berasal dari funding stock dan wholesale funding serta retail funding masing-masing 25% dan 24% dari total funding stock. Dengan struktur demikian, NRB terekspose pada risiko likuiditas yang cukup tinggi.
Dengan merebaknya krisis sub prime mortgage, beberapa building society dan bank di UK mengalami kesulitan likuiditas dan mendapatkan normal funding fasility dari BoE, mengingat telah terjadi kelangkaan pinjaman antar bank secara global, namun belum menimbulkan gejolak bank runs. Sementara NRB dilanda bank runs mengingat NRB sudah mengalami kesulitas untuk mencari sumber bana jangka pendek di pasar uang sebagai dampak adanya global credit crunch sejak merebaknya subprime mortgage di USA. NRB mengalami kesulitan likuiditas yang serius, sehingga pada tanggal 13 September NRB terpaksa mengajukan bantuan likuiditas darurat (dalam skeme di Indonesia disebut Fasilitas Pinjaman Darurat atau FPD) ke BoE. Bank runs tersebut dipicu oleh persepsi negatif dari investor bahwa NRB mengalami kerugian sebagai dampak kasus SPN di US yang pada kenyataannya tidak demikian sebab portolio utama NRB bukan pada secondary market mortgage securities.
Response Otoritas
Negosiasi dengan BoE telah dilakukan selama sepuluh hari sebelum pada akhirnya diputuskan untuk diberikan pinjaman likuiditas darurat yang menggunakan uang pembayar pajak. Pada awalnya, BoE tampaknya enggan memberikan fasilitas likuiditas darurat, tetapi hanya bersedia memberikan bantuan likuiditas dalam kondisi normal (dalam skeme di Indonesia disebut Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek atau FPJP) dengan jaminan bernilai tinggi dan dikenakan penalty rate. Hal tersebut tersirat dari surat Gubernur BoE (Marvyn King) kepada Treasury Committee mengenai kelemahan dan permasalahan injeksi dana terhadap perbankan. “Pemberian bantuan likuiditas darurat tersebut dapat mendorong bank kurang berhati-hati sehingga secara tidak langsung pinjaman darurat ini melindungi bank terhadap perilaku yang beresiko tinggi. Hal itu, mendorong excessive risk taking dan menebarkan bibit krisis keuangan dimasa yang akan datang” tulis King.
Namun permasalahan semakin memburuk, dimana sampai tanggal 15 September 2007, telah terjadi penarikan dana sekitar $2 miliar dan akhirnya BoE terpaksa memberikan fasilitas likuiditas darurat berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan Inggris dengan mendasarkan rekomendasi BoE dan FSA. Dari berbagai sumber diperkirakan NR telah meminjam sebesar GBP 3 milyar pada hari pertama kena rush.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan otoritas terkait menyetujui pemberian bantuan likuiditas kepada NRB sbb:
1.Permasalahan Northern Bank adalah kesulitan likuiditas dan bukan solvabilitas. Rasio permodalan bank tercatat sebesar 12,3% dengan tier 1 rasio sebesar 7,7% (2005).
2.Dengan total loan sebesar 86.361 GBP million (2006) dan 90% nya adalah mortgage loan, NRB menguasai 22%1 dari pangsa mortgage loan di UK yang mencapai 346.000 million GBP2. Oleh karena itu permasalahan likuiditas Northern Bank dapat memicu dampak contagion terhadap bank-bank yang memiliki kesamaan bisnis. Hal ini juga didukung fakta bahwa pinjaman antar bank dari NRB juga cukup besar. Dibandingkan dengan krisis Baring Bank (1995), yang tidak ditolong leh BoE karena dinilai tidak menimbulkan dampak sistemik. Disamping itu Barings Bank sudah dalam kondisi insolvent dan kegagalannya disebabkan oleh fraud.
Namun demikian, pengumuman Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa kondisi NRB solvent dan BoE akan menjamin seluruh simpanan nasabah tidak berhasil meredam bank run. Hal ini dikarenakan persepsi negatif yang berkembang karena masyarakat dan pasar belum dapat mengetahui seberapa luas permasalahan akibat krisis SPM terhadap sektor keuangan dan perbankan yang telah merebak secara global.
Dampak terhadap pasar
Permintaan bantuan likuiditas kepada BoE menyebabkan harga saham NRB jatuh 32%. Hal itu juga berimbas pada harga saham bank sejenis, seperti Paragon turun 17% dan Alliance & Leicester turun 7%. Disamping itu bank run berpotensi terjadi pada kedua bank dimaksud dan bank lain sejenis apabila masyarakat dan kreditur di pasar uang masih merasa belum yakin tentang keamanan simpnanan dan investasinya di perbankan dan pasar uang.
Mengingat dampak kerugian atas permasalahan sub-prime ini sulit diketahui secara pasti, maka akan dapat menimbulkan kekhawatiran para kreditur pada lembaga-lembaga keuangan internasional. Sehingga dapat menarik simpanannya terhadap lembaga-lembaga keuangan yang diperkirakan terkena imbas kasus subprime mortgage ini. Sampai berapa lama kekhawatiran ini mereda tergantung hasil laporan keuangan yang diaudit dan dipublikasikan akhir tahun ini. Berbagai sumber mengatakan bahwa dampak secara luas kasus subprime mortgage ini terhadap perekonomian akan cukup lama mengingat terdapat beberapa lembaga keuangan yang beroperasi secara global mengalami kerugian cukup besar dan besarnya kerugian akan masih belum jelas sampai dengan ditirbitkannya laporan keuangan yang di audit untuk posisi akhir tahun 2007.
Lesson Learnt
Dengan pengalaman kasus NRB di UK tersebut maka kita dapat mengambil hikmah dan sebagai pelajaran bagi kita di Indonesia. Jelaskan pelajaran apa yang kita peroleh dari kasus NRB tersebut yang berkaitan dengan penerapan risk managment.



2 Comments:

Bambang Setiaji said...

Bgmn cara upload?

Terima kasih

www.bambangsetiaji.co.cc

Francisca Chester said...

Sukses ya mas Wimboh FE UNS 77 sebagai Direktur Pengawasan Perbangkan dan Mas Achmad Dahlan sebagai Direktur Pengawasan peredaran uang (Valuta asing). Kita punya banyak alumnus berbobot. Ttp knp majalah Jafek mati suri?

Post a Comment