Segenap Redaksi Jafek Mengundang teman-teman alumi FE UNS untuk menjadi kontributor Jafek online, dengan cara mengirimkan alamat email ke jafekuns@gmail.com, atau mengisikannya ;ewat kolom comment di blog ini....Salam Sukses

Sunday, March 1, 2009

Republik Ponari

Sumber : Republika
Jumat, 27 Februari 2009 pukul 08:43:00
Republik Ponari

Oleh Zaim Uchrowi

Tahun-tahun awal Masehi. Masyarakat Galilea-Palestina merasa menemukan harapan untuk keluar dari penderitaan. Sekitar 800 tahun sebelumnya, mereka masyarakat berjaya. Daud maupun Sulaiman adalah raja sekaligus Rasul Allah yang membangun kehidupan adil dan makmur. Tapi, di masa itu, keadilan dan kemakmuran tinggal menjadi kenangan. Yerusalem telah terjajah Romawi. Hasilnya, penderitaan mendalam bagi rakyat.

Penderitaan yang seperti tanpa jalan keluar sampai hadir Isa putra Maryam. Kematangan dan kesempurnaan pribadi Isa --kedamaian diturunkan baginya-- semestinya cukup menjadi jaminan bagi bangkitnya harapan. Beliau manusia sempurna utusan Tuhan. Tapi, di masa itu, kesempurnaan pribadi dianggap belum cukup meyakinkan. Rakyat perlu bukti.

Rakyat perlu mukjizat: Sesuatu di luar logika normal. Maka, hadirlah mukjizat. Berbicara saat bayi; menyembuhkan orang lepra; juga menghidupkan orang mati. Seolah mukjizat itu akan langsung mengatasi penderitaan umat manusia. Padahal, seperti diajarkan Isa, penderitaan akan teratasi bila manusia bersandar hanya pada Ilahi.

Dua ribu tahun setelah masa itu sudah berlalu. Ternyata, masyarakat tetap mengharap ada mukjizat. Termasuk masyarakat kita di tanah yang jauh dari Palestina ini. Mungkin cerita-cerita tentang 'mukjizat' Nabi dan 'karomah' Wali memang tertanam kuat di sini. Tapi, mungkin manusia memang tak berubah. Selalu perlu keajabiban.

Perlu yang instan. Perlu mukjizat. Hari-hari ini, di negeri yang subur makmur ini, masyarakat merasa menemukan mukjizat itu pada Ponari. Apa yang dapat dilakukan bocah sembilan tahun kelas 3 SD itu? Apakah Jombang, daerah penghasil tokoh-tokoh unik, seperti almarhum Asmuni, Gus Dur, hingga Ryan, menjadi faktor kelahiran fenomena Ponari? Kemungkinan besar tidak. Yang menjadi faktor kunci adalah batu asing yang bolak-balik 'mendatangi' Ponari.

Itu dianggap semacam mukjizat. Lalu, batu itu dipandang mempunyai kekuatan menyembuhkan. Maka berduyunlah orang ke tempat Ponari, mengharap air celupan batu itu buat berobat.

Sebagai pertunjukan, ini fenomena mengasyikkan. Juga, mengasyikkan buat melahirkan ide-ide liar. Seorang pemerhati pariwisata, misalnya, menyebut batu Ponari perlu dibeli buat dicelupkan ke berbagai danau di Indonesia. ''Biar orang-orang di seluruh dunia berbondong-bondong ke danau-danau di Indonesia,'' katanya.

Dengan mengumbar senyum tentu. Namun, selain menghasilkan seloroh yang menyenyumkan, fenomena Ponari juga menyodok-nyodok rasa keprihatinan. Fenomena Ponari menjadi tamparan pada seluruh sisi bangsa ini. Pada dunia pendidikan, kesehatan, hingga agama.

Pendidikan macam apakah yang terselenggara selama ini hingga masyarakat kita tak mampu mengelola kesehatan sendiri? Bahkan, menjadi masyarakat yang tidak berakal sehat. Layanan kesehatan macam apakah yang ada selama ini hingga masyarakat kita tidak percaya atau tak mampu menjangkaunya, lalu memilih lari ke batu Ponari? Pengajaran agama macam apakah yang berkembang selama ini hingga prinsip 'sunatullah' sederhana pun tak kita pahami? Dengan kualitas masyarakat setingkat ini, politik serta kepemimpinan publik macam apa yang terbangun di negeri ini? Tanpa transformasi mendasar di seluruh sisi, apakah Republik Ponari dengan kualitas begini dapat menjadi bangsa yang sejahtera bagi seluruh rakyatnya?

Fenomena Ponari semestinya membuka kesadaran bersama kita untuk berubah secara mendasar. Biarkan memang Republik ini tetap menjadi Republik Ponari. Tentu, bukan Ponari yang mengandalkan 'batu ajaib', tapi Ponari dengan moralitas kuat, cerdas, dan pekerja keras yang siap bersaing di era global.

Post a Comment